Breaking

Selamat Datang di SAKAUPOKER | Situs Judi Online Terpercaya & Aman | Minimal Depo & Withdraw Hanya Rp 20.000 |Link Alternatif : www.sakaupoker.vip

Rabu, 21 Maret 2018

AKU DI PERKOSA DENGAN CARA SADIS


           -Cerita hot39- Waktu sudah larut malam saat Dini dan Winda pulang jalan-jalan dari sebuah mall di kota Bandung, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah PTN terkemuka. Saat itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, sehingga banyak di antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Dini dan Winda lebih memilih untuk tetap tinggal di kota Bandung karena tidak banyak yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal mereka. Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam 10 malam. Saat itu daerah di sekitarnya sudah sepi begitupula di dalam kost-kostan karena semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal mereka masing-masing untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka, dan kini tinggallah mereka berdua saja yang masih bertahan di dalam areal kost yang luas dan besar itu. Walau usia mereka terpaut jauh, mereka berdua sangatlah akrab karena selain mereka tinggal sekamar dan berasal dari Jakarta, di kampus mereka juga satu fakultas. Dini saat ini berusia 26 tahun, sementara Winda baru berusia 18 tahun. Keduanya memiliki wajah yang cantik, Dini dengan bentuk badan yang berukuran sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Winda memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut-imut. Banyak pria yang tertarik kepada mereka berdua, karena bukan saja mereka cantik dan pintar, namun mereka juga pandai dalam bergaul dan ringan tangan.

Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari para pria yang mendekati mereka. Dini saat ini lebih memilih berkonsentrasi untuk menghadapi sidang skripsinya, sedang Winda yang baru menamatkan tahun pertamanya di kampus tersebut lebih memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada pacaran atau berhura-hura. Sesampainya di kost, Dini langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sedangkan Winda mampir dulu ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar kost mereka. Setelah membuka kamar, Dini begitu terkejut ketika dilihatnya kamar mereka sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tiba-tiba kepala Dini sudah dipukul dari belakang sampai pingsan. Dini tidak tahu apa-apa sampai tubuhnya digoncang-goncang seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat di kursi tempat biasanya dia duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara. Belum lama dia siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto. Dan satu orang lagi juga berbadan agak gemuk, berambut acak-acakan juga hanya mengenakan celana jeans.

Wajah mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Dini kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Heri dan satu lagi bernama Thomas. Mereka berdua adalah teman dari Bagas pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas. Memang beberapa waktu yang lalu Dini dan Winda dikenalkan oleh Bagas kepada Heri dan Thomas. Karena dengan setengah memaksa Bagas, Heri dan Thomas ingin dikenalkan dengan Dini dan Winda yang waktu itu baru pulang dari kampus. Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan Dini dan Winda. Akan tetapi rupanya cinta mereka bertepuk sebelah tangan, Dini dan Winda lebih sering menghindar untuk bertemu dengan Heri dan Thomas. Dan yang membuat hati Dini menjerit dan panas adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Heri sedang duduk di pinggir ranjang mereka sambil memangku Winda yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih. Winda sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi Heri yang badannya jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremas-remas payudara Winda yang baru sekepalan tangan orang dewasa itu yang masih terbungkus BH, kemudian menjilati leher Winda.


Pria itu lalu berkata, Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..! Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Winda dengan bibirnya, Hmp.., cup.., cup..,begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu. Air liur pun sampai menetes-netes keluar, rupanya lidah Heri bermain di dalam rongga mulut Winda.Sementara itu Thomas yang berada di samping Dini berkata kepada Dini, Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baik-baik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..! sambil mengelus-elus kepala Dini.Dini mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Dini pun mulai pucat. Lalu Heri yang masih memangku Winda menyudahi serbuan bibirnya dan berkata, Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang! Dia menyuruh Winda berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.Sambil menangis Dini memohon belas kasih, J.. ja.. angan.. tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini! Belum selesai berkata, tiba-tiba, Pllaakk..! si Heri menampar pipinya dan menjambak rambutnya.Dengan paksa Winda dibuat berlutut di depannya, Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..!Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Winda membuka celana Heri dan begitu dia menurunkan celana dalam Heri tampaklah kemaluan yang telah membesar dan menegang.



Tanpa membuang waktu Heri segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Winda yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Winda. Hhmpp.., emphh.. mpphh..! begitulah suara Winda saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Heri. Thomas juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Winda, menyuruh Winda mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang kemaluan Thomas tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Winda dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Heri dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Thomas.Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..! kata Heri.
Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..! timpal Thomas.Beberapa lama kemudian nampak tubuh Heri menegang, seluruh badannya mengejang, dan,A.. akh..! Heri akhirnya berejakulasi di mulut Winda. Cairan putih kental memenuhi mulut Winda menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Winda terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Heri di kepalanya.Setelah itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara dan bulu-bulu kemaluannya yang masih halus dan jarang.Waw cantik sekali anjing ini. ujar Thomas sambil memandangi tubuh bagian dada dan bawah Winda yang sedang terisak-isak ketakutan.

Kali ini Thomas duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Winda berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Winda terpaksa menuruti kemauan Thomas itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya, sehingga Thomas
mendengus keenakan. Sementara itu si Heri mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Winda dan menjilati liang vaginanya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.Seketika itu Winda kaget dan, Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..! Winda pun merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan jari-jari serta jilatan lidah Heri di kemaluan Winda. Ayo anjing.., kocok terus barang gue..! bentak Thomas sambil menampar kepala Winda.Kembali Winda mengocok kemaluan Thomas sambil badannya terus meliak-liuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Heri. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintih-tintih. Sekitar 10 menit dikocok, Thomas memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga mulut Winda. Kali ini Winda sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Thomas jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Winda dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang. Pelacur anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..! bentaknya. Heri pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Winda.Goblok..! Gue lagi asyik nikmatin memek elo. Elo jangan macem-macem ya..! bentak Heri.

Winda hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua kali tamparan itu. Nampak kemarahan Dini bangkit karena teman dekatnya diperlakukan begitu. Dini meronta-ronta di kursinya, tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyang-goyang. Melihat reaksi Dini si Heri berkata, Kenapa? Elo tidak terima ya pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang elo nggak bisa ngapa-ngapain, jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..! Abis ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..! Mereka kembali menggerayangi tubuh Winda, kali ini Heri merentangkan tubuh Winda di tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Winda. J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Dini. Ampun Bang..! pinta Winda sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Thomas membantu Heri dengan memegangi kedua tangan Winda. Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Winda yang masih sempit, sehingga dari wajah Winda terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.Setelah hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Winda, Heri mulai memaju-mundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat. Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian dari sela-sela kemaluan Winda mengucur darah segar bercampur dengan cairan bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha Winda.

Aakkh.. aahh.. aa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh.., begitulah erangan dan teriakan Winda merasakan sakitnya.Rupanya teriakan dan erangan Winda menambah nafsu dan semangat Heri untuk terus memompakan kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Winda pun terbanting-banting dan terguncang-guncang keras. Winda hanya pasrah mengikuti irama Heri dan kedua tangan Winda pun kini sudah dilepas oleh Thomas.Selama beberapa menit disetubuhi oleh Heri, tiba-tiba badan Winda menegang sampai secara refleks dia memeluk kepala Heri yang sedang asyik menggenjotnya. Dia rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Heri pun menyudahi gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina Winda.He.. he.. he.. Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak engga, jawaabb..! bentak si Heri sambil menarik rambut Winda. Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Winda menjawab, E.. e.. enak, enak sekali..!Jawab lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..! kata Thomas.I.. iya, s.. saya suka sekali bercinta. jawabnya dengan suara terbata-bata.Tuh, kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..! ejek mereka pada Dini yang hanya dapat meronta-ronta sambil menangis di kursinya. Hatinya benar-benar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.Kemudian si Heri mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Winda gaya posisi anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya Winda hingga terbenam seluruhnya.

Karena rasa perih dan sakit yang tidak terhingga, maka Winda berteriak memilukan, Aaakkhh..! Lalu dia menariknya lagi, dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Winda hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak. Ooughh..! Winda mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengar memilukan, Aahh.. ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..! Kini Heri meyodomi Winda dengan irama yang keras dan cepat hingga Winda menggelepar-gelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot oleh Heri. Tidak beberapa lama heri akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Winda dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Winda, sementara Winda tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah, Aahh..! Namun Heri belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Winda dan kembali Heri meniduri Winda dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke lubang vagina Winda yang telah lemas itu, dan kembali Heri menggenjot tubuh lunglai itu. Tidak lama Heri pun berejakulasi di rahim Winda. Lolongan kepuasan keluar dari mulut heri disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber keluar dari sela-sela kemaluan Winda. Winda pun merintih lirih, dan akhirnya bersamaan dengan itu Winda pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit yang tidak terhingga.

Dengan perasaan puas Heri pun merebahkan badannya di samping Winda yang tergeletak tidak bergerak.Akhirnya gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..! ujarnya sambil mengehela napas dan melirik Winda. Sesudah itu kini Thomas yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Dini yang masih terikat lemas di kursinya.Hei, teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal, sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak, Mati elo..!PLAAK..! sebuah tamparan keras menghantam kepala Dini hingga Dini yang masih diikat di kursi itu terjatuh bersama kursinya.Hmmph..! dengan mulut tersumbat Dini berteriak. Kemudian dia menarik dan meletakkan tubuh Dini mengembalikan ke posisi semula. Dengan pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobek-robek baju kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Dini. Nafas Dini tersentak ketika dengan cepat Thomas dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya. Sekarang Dini hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat duduknya. Hmph.., hmph..! Wiwin meronta sambil memandang Thomas dengan putus asa, matanya memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat pasi.

Karena dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat. Diem brengsek..! kata Thomas, PLAK..! sekali lagi tamparan kuat mendarat di pipi Dini, membuat kepala Dini tersentak. Kemudian ia membuka ikatan Dini dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup, dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Dini serta melebarkan kedua kaki Dini hingga posisi Dini kini seperti orang merangkak. Dini hanya dapat pasrah mengikuti kemauan Thomas. Tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Dini dan Winda untuk berdandan sebelum pergi kuliah. Leim lalu merobek celana dalam Dini dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Dini dapat melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya Thomas sedang mengagumi dirinya. Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke! Thomas menampar pantat sekal Dini yang sebelah kiri yang membuat Dini menjerit kaget. Lalu tanpa menunggu lagi, Thomas yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Thomas hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala Dini dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Dini, mungkin ini dapat membuat nafsu Thomas semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi, wajah Dini jadi nampak cantik dan lucu seperti komentar kebanyakan teman-temannya. Kemudian Thomas menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Dini lewat belakang. Ooh.., ampun Pak Thomas. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..! Dini mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.

Sambil menoleh ke belakang dan memandang Thomas, Dini mencoba untuk meminta belas kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Namun Thomas terus mengancam dengan pisau dapur yang masih digenggamnya. Thomas tidak perduli Dini memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Dini, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya. Setelah tangan si Thomas memegang pinggul Dini, dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju. Arrgghh.., ahh.., Ampun..! Dini menjerit-jerit ketika penis Thomas mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya. Kaki Dini mengejang menahan sakit ketika penis Thomas terus menembus masuk tanpa ampun menusuk-nusuk selaput daranya. Bibir tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihan-rintihan, Oohh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..! Badannya pun tersodok-sodok. Thomas terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Dini. Ketika kepala Dini terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Dini sehingga kepalanya kembali terangkat dan Dini kembali dapat melihat dirinya disetubuhi oleh Thomas melalui cermin di depannya. Kadang-kadang Thomas menampar pantat Dini berulang kali, juga dilihatnya payudara Dini yang tersentak-sentak setiap kali Thomas menyodok penisnya ke dalam vagina Dini dan dia hanya dapat pasrah mengerang-ngerang dan merintih. Tiba-tiba Thomas mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Dini langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.

Tapi tiba-tiba Heri yang ternyata sudah pulih terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Dini sampai ke pintu depan.Ahh, tolong! Tolompphh.., teriakan Dini dibungkam oleh tangan Heri, sementara itu Thomas mendekat dan memukul Dini dengan keras.Dini pun jatuh terjelembab ke lantai.Dasar Bandel ya..! ujar Thomas.Kemudian Thomas mengikat tangan Dini menjadi satu ke depan. Setelah itu, Dini didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang Thomas memasukkan penisnya ke mulut Dini. Mmpphh..! Dini mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya. Sementara itu Thomas dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Dini. Kedua tangan Thomas memegang kepala Dini dengan kencangnya menggerak-gerakkan maju dan mundur. Mata Dini tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan seperti ini. Setelah beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Dini, terlihat tanda-tanda Thomas akan mencapai klimaksnya, gerakan memaju-mundurkan kepala Dini semakin cepat. Dan, Akkh.. Croot.., croot..! Thomas berejakulasi di mulut Dini, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Dini. Dini hanya dapat mendengus-dengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang dimuntahkan Thomas tadi, sementara pegangan tangan Thomas di kepala Dini semakin kencang, sehingga sulit bagi Dini untuk menarik kepalanya.

Setelah semprotan sperma yang terakhir, barulah Thomas mencabut kemaluan dari mulut Dini yang kini mulutnya terlihat penuh dengan lendir memenuhi rongga mulutnya hingga ke bibirnya. Dengan napas puas Thomas mencapakkan kepala Dini hingga telentang di kasur. Siap, siap Sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus dan sekal ini..! tiba-tiba terdengar suara Heri yang sudah berada di samping Dini. Dini memandang Heri dengan wajah ketakutan. Dia tahu bagaimana Heri memperlakukan Winda hingga pingsan.Kemudian Heri menoleh ke Thomas yang duduk di belakangnya untuk istirahat setelah klimaks tadi.Ja.. jangan, jangann.. Bang Heri.. saya nggak mau diperkosa di situ Bang..! Ampun Bang. Rasanya ssakit.., kasihani saya Bang..! ujar Dini memelas kepada Heri.He Anjing. Gue tetep nggak perduli lo mau apa nggak..! Heri menarik tubuh Dini hingga dia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian dia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnya.Setelah itu dia membuka belahan pantat Dini lebar-lebar.Ampun, jangan..! Sakit..! Ampun Bang Heri. Ampun..! Aakkhh..! Heri mulai mendorong masuk, sementara Dini mejerit-jerit minta ampun. Dini meronta-ronta tidak berdaya, matanya terbelalak, hanya semakin menambah gairah Heri untuk terus mendorong masuk penisnya. Dini terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis Heri masuk ke anusnya.

Ampun..! Sakit sekali! Ampun! Ooughh.. iihh..! jerit Dini, ketika Heri mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnya.Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian! kata Heri sambil mengusap-usap buah pantat Dini.Sementara itu darah segar terlihat mulai mengalir menetes-netes membasahi paha dan kasur.Bener-bener pantat kualitas nomer satu! omel Heri sambil terus memompa kemaluannya.Tangisan Dini makin keras, Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit Pak, ampun..! Sementara itu badannya mengejang-ngejang menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang teramat sangat, tubuhnya semakin basah oleh keringatnya. Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo! ujar Heri sambil terus menyodomi Dini.Hingga akhirnya tubuh Heri mengejang keras, kepalanya menengadah ke atas, cengkraman tangan di pinggang Dini pun semakin keras dan urat-uratnya pun kini terlihat pertanda sebentar lagi dia akan mencapi klimaksnya. Heri berejakulasi di lubang pantat Dini yang semakin kepayahan dan tubuhnya melemah. Heri pun dengan menghela napas lega kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Dini yang juga terjatuh telungkup badannya lemas dan menahan rasa sakit yang tidak terhingga di lubang duburnya yang kini mengalami pendarahan. Suara yang terdengar dalam kamar kost itu hanya tangisan Dini, tangisan yang benar-benar menyayat hati, yang membuat Thomas kembali bangkit nafsunya.

Thomas berjongkok membalikkan tubuh Dini yang tadinya telungkup menjadi telentang. Kemudian menarik kaki Dini, lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya menyentuh buah dadanya. Kini posisi Dini telah siap untuk disetubuhi, Thomas meraih penisnya yang telah kembali tegang dan memeganginya, memandang ke arah Dini yang memalingkan wajahnya dari Thomas, matanya terpejam erat-erat wajahnya yang masih mengenakan topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Thomas mengarahkan penisnya ke vagina Dini, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya, membantu membuka bibir vagina Dini. Dini mengerang dan merintih, tubuhnya kembali meronta-ronta, giginya menggeretak, Thomas nampak menikmati jeritan Dini ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan cairan vaginanya. Aahhgghh..! Thomas mulai memperkosa Dini. Kaki Dini terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya. Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Thomas mulai bergerak dengan keras di vagina Dini. Thomas menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Dini sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Thomas semakin bersemangat mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Dini. Nafsu telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin cepat tubuh Dini pun lemas tergoncang-goncang dan tersodok-sodok.

Dan suatu ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Dini oleh Thomas, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Dini. Kini pada setiap hentakan membuat rambut indah Dini tergerai-gerai menambah erotisnya gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Dini, bibir Thomas kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Dini yang tidak tertutup topi dan menyedot salah satu sisi leher Dini.  Gerakan dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Dini pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah dan teratur, Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..! sementara tubuhnya telah lemah dan semakin kepayahan. Akhirya badan Thomas pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Thomas berejakulasi di rahim Dini. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Thomas nampak menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Dini yang telah kepayahan dan lunglai itu. Thomas mengerang kenikmatan di atas badan Dini yang sudah lemah yang sementara rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak. Aauughh.. oh..! Dini pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan menyusul Winda temannya yang terlebih dulu pingsan. Badan Thomas menggelinjang dan mengejang disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Dini.

Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh lunglai Dini yang tergelatak di bawahnya. Thomas pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, akhirnya terjatuh lemas lunglai tertidur dan memeluk tubuh Dini yang tergolek lemah. Begitulah malam itu Heri dan Thomas telah berhasil merenggut keperawanan dua orang gadis cantik yang ditaksirnya. Waktu pun berlalu, fajar pun hampir menyingsing, kedua tubuh gadis itu masih tidak bergerak. Bekas keringat, cairan sperma kering dan darah mulai kering nampak menghiasi tubuh telanjang tidak berdaya kedua gadis cantik itu. Pagi itu saat Heri dan Thomas sudah rapih mengenakan pakaian mereka, tiba-tiba Bagas sang pemilik kost mendatangi kamar kedua gadis itu. Saat itu dia bersama Acong teman Bagas yang juga teman Heri dan Thomas.Hei.., kalian disini rupanya. ujar Bagas. Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat ke dalam kamar kost dan melihat tubuh kedua gadis telanjang itu tergeletak tidak bergerak. Wah elo-elo abis pesta disini ya..? tanya Bagas.

Tanpa menjawab, Thomas dan Heri dengan tersenyum hanya berlalu meninggalkan Bagas dan Acong yang terbengong-bengong.Saat Thomas dan Asan berjalan meninggalkan kamar kost, mereka sempat melirik ke belakang. Rupanya Bagas dan Acong sudah tidak terlihat lagi dan kamar kedua gadis itu kembali rapat terkunci. Kini rupanya giliran Bagas dan Acong yang berpesta menikmati tubuh kedua gadis malang itu. Memang rupa-rupanya Bagas juga memendam cinta kepada gadis-gadis itu dan kali ini dia dibantu oleh Acong dapat leluasa menikmati tubuh gadis-gadis itu. Kembali tubuh Winda dan Dini yang sudah tidak sadarkan diri menjadi bulan-bulanan. Bagas dan Acong pun leluasa berejakulasi di mulut dan rahim gadis-gadis itu sepuas-puasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar